Jumat, 12 Oktober 2012

ORGANISASI

Teori Organisasi Umum 1


1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan organisasi ?

Organisasi adalah sekumpulan dari 2 orang atau Lebih yang disusun dalam kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama.. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen
organisasi sebagai wadah karena di dalam organisasi kita bertemu dengan orang2 yang mempunyai visi dan misi yang sama, tujuan yang sama.
organisasi sebagai proses karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat.
Organisasi formal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan suatu tujuan bersama secara sadar dan direncanakan serta dengan hubungan kerja yang rasional. Organisasi formal memiliki ciri-ciri :
- Terstruktur
- Kaku
- Terumuskan
- Tahan lama
Contoh : Organisasi di Perusahaan, Sekolah, Negara,
Organisasi Informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak disadari.
- Lepas
- Fleksibel
- Tidak terumuskan
- Spontan
Contoh : Arisan ibu-ibu RT, belajar bersama mahasiswa sebelum mengikuti Ujian.

Dalam pengalaman saya berorganisasi, terdapat perbedaan ketika saya bergabung dalam organisasi formal dengan informal. Ketika saya berada di dalam organisasi yang formal, saya dituntut untuk berlaku profesional karena organisasi nya berlingkup dalam dunia kerja saya. ketepatan, kecepatan, efesiensi sangat diharapkan didalam organisasi ini.
Namun ketika saya berada dalam organisasi informal, terasa berbeda sekali dengan organisasi formal. Lebih longgar pastinya, ketika saya terlambat memberikan laporan tidak menjadi suatu masalah yang besar berbeda dengan organisasi yang formal.

Jumat, 05 Oktober 2012

Sejarah GANGNAM STYLE

Mungkin di sabagian kalangan masih bingung tentang apa itu Gangnam style, ia tarian kuda yang diperagakan dalam video PSY ini sangat dipopulerkan oleh masyarakat dunia. Tak bisa dipungkiri memang lagu milik PSY ini begitu digilai selain karena ciri khas dance yang unik, tapi juga karena dance 'tarian kuda' yang begitu atraktif. Tidak hanya terkenal di kalangan penggemar musik K-Pop, Gangnam Style bahkan sudah mencapai popularitas global dan menembus musik Amerika. bahkan banyak jajaran bintang Hollywood menjadi penggemar Gangnam Style. Penasaran ingin tahu lebih lanjut soal Gangnam Style?silahkan baca artikelnya di bawah ini

1. Siapakah PSY? PSY singkatan dari Park Jae Sang. PSY terlahir pada 31 Desember 1977. Artis yang berada di bawah naungan agensi YG Entertainment ini merupakan senior dari boyband Big Bang dan girlband 2NE1. PSY ini memulai debutnya di dunia musik pada tahun 2001 dengan album PSY....From the Psycho World. Lima bulan kemudian album itu ditarik dari peredaran karena dianggap memberikan dampak buruk bagi generasi muda. Bahkan album keduanya, Ssa 2 yang dirilis di tahun 2002 juga dilarang beredar. Penyanyi yang dijuluki Bizarre Singer ini memulai kesuksesan pada September 2002 dengan album ketiga dan lagu utama Champion. Namun baru-baru ini lirik lagu Champion dianggap bermasalah karena menyebutkan istilah Niga. Niga sendiri dalam bahasa Korea berarti kamu, namun dalam tata bahasa Inggris global Niga yang juga disebut Nigga adalah julukan rasis untuk kaum Afrika-Amerika.

2. Apakah Gangnam Itu? Gangnam adalah kawasan yang terletak di bagian selatan sungai Han di Seoul, dengan bagian utara sungai itu bernama Gangbuk. Gangbuk awalnya menjadi jantung kota Seoul sampai akhirnya Gangnam mulai dikembangkan di tahun 1970an. Ketika kawasan Gangbuk menjadi pusat kawasan yang dihormati terutama menjadi tempat tinggal Dinasti Joseon dan presiden Korea Selatan sekaligus pusat ekonomi, Gangnam mulai berubah setelah kawasan ini didesain ulang menjadi daerah komersial dan dibangun infrastruktur transportasi moder di tahun 1970-an. Distrik Gangnam sendiri dibagi menjadi 22 kawasan. Di antaranya adalah kawasan yang akhirnya menjadi daerah mewah dan berkelas seperti Apgujeong, Cheongdam, Yeoksam, Samseon, dan Nonhyeon.

3. Gangnam Dulu dan Sekarang Proses pengembangan kawasan Gangnam mulai semakin pesat di tahun 80an dan menyebabkan masalah yang mengakibatkan harga tanah menanjak lantaran spekulasi real esrare. Bahkan beberapa sekolah prestisius di kawasan Gangbuk berpindah ke Gangnam. Area bernama Distrik Sekolah Gangnam 8 akhirnya menjadi kawasan sekolah paling berkualitas di Korea Selatan. Gangnam semakin dikenal dengan kehidupan kelas atas dan dunia malamnya yang gemerlap. Gangnam kini diisi oleh pusat perbelanjaan mewah, restoran, dan nama-nama agensi entertainment raksasa K-Pop seperti SM Entertainment dan JYP Entertainment. Gangnam bahkan mendapat julukan sebagai Beverly Hills-nya orang Korea. Perkembangan tak merata antara Gangnam dan Gangbuk membuat jurang perekenomian masyarakat yang begitu dalam. Selama 4 dekade terakhir, Gangnam telah menjadi ikon untuk orang-orang kalangan jetset di Korea yang mewakiliki kehidupan mewah kaum borjuis di Korea Selatan.

4.Arti Lagu Gangnam Style Lagu Gangnam Style memang menceritakan kehidupan masyarakat kelas atas distrik Gangnam, sekaligus sebuah sindiran yang bersifat parodikal. "A girl who looks quiet but plays when she plays A girl who puts her hair down when the right time comes A girl who covers herself but is more sexy than a girl who bares it all A sensable girl like that" "I’m a guy A guy who seems calm but plays when he plays A guy who goes completely crazy when the right time comes A guy who has bulging ideas rather than muscles That kind of guy" Bait pertama lirik itu bisa berarti seorang gadis yang terlihat tenang tapi mampu diandalkan. Seorang gadis yang tak perlu berpakaian mini tapi justru lerlihat sangat seksi. Sementara di bait kedua, diceritakan bahwa PSY adalah seorang pria yang tenang namun bisa diandalkan dengan ide-ide cemerlangnya, di mana kepintarannya lebih besar daripada otot six pack di tubuhnya. Sementara lirik populer 'Oppa Gangnam Style' bisa berarti bahwa 'saya bergaya hidup Gangnam'. Oppa sendiri dalam bahasa Korea berarti sebutan dari perempuan untuk saudara laki-laki yang lebih tua. Tapi Oppa juga bisa berarti kata ganti pertama. Sindiran ini menjurus kepada masyarakat gangnam yang lebih mengutamakan kekayaan, ketampanan, kecantikan, bentuk tubuh yang sempurna daripada sifat, sikap, dan pengetahuannya.

5.Arti Music Video Gangnam Style PSY menyebutkan bahwa dirinya memilih konsep MV Gangnam Style dengan 'dress classy dance cheesy'. Sehingga dalam MV itu PSY tampil dengan baju parlente ala masyarakat kelas atas. Sama seperti lirik, MV juga menyinggung kehidupan penduduk Gangnam yang berkelas dan seringkali menghabiskan waktu di tempat-tempat yang mahal. Ada sekumpulan orang tua jutawan yang mudah marah dan tersinggung karena hal sepele, maupun gadis-gadis seksi dan pria dengan pesona fisik memukau yang gaya hidupnya begitu borjuis atau juga pria-pria dewasa hidung belang yang merupakan pengusaha sukses tapi gemar menghabiskan waktu dengan banyak wanita dan pesta. Pro kontra bermunculan pada video clips ini Adrian Hong, seorang konsultan Korea-Amerika menjelaskan bahwa MV itu juga menyinggung penggunaaan kartu kredit yang tinggi di kalangan orang dewasa. Disebutkan mereka memiliki sampai 5 macam kartu kredit per orang semenjak pertengahan tahun 1990. Namun Hong juga menambahkan bahwa alur cerita MV hanya khayalan PSY semata. Di mana dirinya berharap menjadi seorang masyarakat Gangnam, tapi nyatanya dia hanya seorang pengkhayal.

6. Arti 'Tarian Kuda' Gangnam Style Tarian kuda yang menjadi ciri khas lagu itu. Tapi dari mana sebenarnya julukan tarian kuda itu berasal? Seperti yang banyak diketahui dalam drama Korea, terkadang ketika sebuah karakter diceratakan merupakan tokoh yang kaya raya, salah satu kegiatan yang seringkali mereka lakukan adalah berkuda. Sama dengan apa yang ada dalam cerita drama Korea, konon pemuda di kawasan Gangnam kerap kali menunjukan kehidupan borjuis mereka dengan berkuda. Sehingga jika PSY memilih tarian kuda dengan lagu Gangnam Style, maka keterkaitan itu terasa lebih cocok. Bagaimana menurut kalian?

7. Raihan Popularitas Gangnam Style Gangnam Style pertama kali dirilis pada 15 Juli 2012. Awalnya lagu ini hanyalah dianggap sebagai lagu baru comeback . Lagu ini mulai populer melalui kalangan pengguna jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter yang mengakibatkan pengguna di luar Korea menjadi penasaran dan tertarik. Sehingga efek bola salju itu sampai di kalangan artis Amerika Serikat. Di awal Agustus, lagu ini menjadi fenomena global ketika media internasional mulai membicarakannya. 4 Agustus, Los Angeles Times menulis mengenai Gangnam Style. Pada minggu terakhir Agustus, Billboard Magazine melaporkan bahwa PSY berhasil ada di posisi teratas Billboard Social 50 dengan mengalahkan Taylor Swift. Setelah itu, popularitas Gangnam Style semakin tak terbendung. Gangnam Style menjadi lagu K-Pop pertama sepanjang sejarah yang berhasil meraih viewers MV di atas 150 juta kali di Youtube.

Obat Bagi Tiga “Pusing” Mahasiswa

Dimuat di Suara Mahasiswa OKEZONE.COM Rabu, 06 Juli 2011 Bulan-bulan di akhir tahun ajaran hingga awal tahun ajaran baru selalu diwarnai dengan kehadiran siswa-siswi SLTA yang akan mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. Tak peduli dari jantung kota hingga pelosok desa, bagi siswa kelas XII dan alumninya –yang memiliki kemampuan– berbondong untuk berebut kursi perguruan tinggi. SNMPTN, sebagai ajang nasional penerimaan mahasiswa baru pun membeludak peminatnya. Walaupun sebenarnya banyak pula PTS berkualitas yang jarang dilirik calon mahasiswa. Siapa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, prestasi yang besar, hingga kantong yang tebal, diperebutkan berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta untuk mereka didik dan kembangkan sesuai dengan karakter perguruan tinggi itu. Namun dimanapun kuliahnya, entah PTN ataupun PTS, seluruh calon mahasiswa, mahasiswa dan pasca mahasiswa, seluruhnya penulis pastikan mengalami tiga macam pusing berikut ini. Namun sebagai generasi terpelajar yang bijak, sudah sepantasnya menyikapi dengan bijak pula. Inilah pusing yang pertama. Susah-susah mudah memang untuk menjadi mahasiswa. Harus menyiapkan berbagai hal untuk memenuhi persyaratannya. Bersaing dengan ribuan pelajar. Belum lagi ditambah pesaing dari kalangan penyuap dan nepotisme pegawai perguruan tinggi bagi beberapa perguruan tinggi yang memang menjadi idaman, apalagi perguruan tinggi yang memiliki jaminan kerja setelah lulus. Namanya juga Indonesia, sudah tidak kaget kalau mendengar asas ‘siapa tebal amplopnya, dia dapat’ dan prinsip ‘utamakan keluarga’. Namun hal tersebut bisa diatasi dengan bijak. Mari berfikir bahwa kesuksesan bukan hanya berasal dari lulusan perguruan tinggi negeri, ternama dan favorit. Bahkan banyak lulusan perguruan tinggi swasta yang dianggap tidak populer namun sukses pula di bidangnya. Sebagian besar pelajar memilih perguruan tinggi favorit hanya bermodus gengsi saja. Bahkan tidak sesuai dengan minat dan bakatnya, yang penting bisa masuk di perguruan tinggi ternama tersebut. Apa salahnya jika kita memilih perguruan tinggi yang dirasa kurang favorit, kemudian kita mengukir prestasi di sana, lalu perguruan tinggi itu menjadi favorit karena prestasi kita. Bukankah itu lebih baik? Anehnya, ketika para siswa itu sudah berubah status menjadi mahasiswa, di perguruan tinggi ternama yang mereka idam-idamkan, mereka tidak memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Rute ‘kampus-kos’ menjadi keseharian mereka tanpa ada kreativitas lainnya. Organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra kampus tidak satupun dipelajari dan diikutinya. Prestasi akademiknya pun hanya biasa-biasa saja. Pusing yang kedua pun ia rasakan saat menduduki nyawa semester yang hampir padam. Skripsi atau Tugas Akhir. Hanya itu yang ada di pikirannya. Kuliahnya selama 3, 4, atau bahkan hingga 7 tahun, seakan hanya penelitian kecil itu yang bisa menjadi kunci untuk menyandang gelar sarjana atau ahli madya. Meskipun saat ini –menurut salah satu dosen metodologi penelitian di tempat penulis kuliah–jarang ditemukan penelitian mahasiswa yang sesuai dengan standar penelitian, sebagian besar hanya berprinsip ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) dari penelitian yang sudah ada. Tidak salah memang, namun apabila mengambil tema penelitian yang sesuai dengan minat kita, apalagi memiliki manfaat praktis yang dapat kita rasakan pasca penelitian, tentu akan sangat membantu dalam proses penelitian. Hasilnya pun tentu akan lebih mantab, karena dikerjakan dengan tidak ada keterpaksaan. Ketika proses penelitian berakhir, tiba saatnya mahasiswa menemukan titik keceriaan, status sosialnya pun berubah. Sarjana atau Ahli Madya, mereka sandang sesaat setelah diwisuda. Namun di tengah kegembiraan para wisudawan-wisudawati, dimungkinkan juga menjadi tangis bangsa Indonesia. Karena saat itu juga, angka pengangguran melonjak drastis. Di balik kegembiraannya, terdapat kesedihan tersendiri bagi sebagian wisudawan-wisudawati maupun masyarakat secara umum. Inilah pusing ketiga kalinya yang menempel di kepala (mantan) mahasiswa. Mereka dituntut oleh keluarga dan masyarakat untuk segera bekerja di perusahaan elite, merantau ke luar negeri, atau tidak sedikit pula yang berprinsip ‘pokoknya’ PNS apapun caranya. Sudah IP nya pas-pasan, lowongan kerja sedikit, pelamar membeludak, belum lagi tidak memiliki keahlian dan prestasi khusus yang bisa diunggulkan. Dan tidak sedikit pula lulusan perguruan tinggi yang seperti ini. Hat itu merupakan salah satu efek dari ketidakaktifan mahasiswa ketika masih berada di bangku kuliah. Baik aktif mengembangkan potensi, berorganisasi maupun belajar dan bercita-cita untuk menciptakan lapangan kerja, bukan mencari kerja. Maka tidak salah, bahkan menjadi nilai tambah, jika mahasiswa kuliah sambil bekerja atau sambil membuka usaha. Karena akan mengurangi kesedihan Indonesia dengan berkurangnya angka pengangguran, minimal untuk dirinya sendiri, apalagi bisa mengajak orang lain untuk bekerja di sana. Menjadi sedikit pencerahan, akhir-akhir ini banyak bermunculan wirausahawan dari kalangan mahasiswa. Komunitas-komunitas enterpreneur juga banyak berdiri di berbagai perguruan tinggi. Memanfaatkan bakat dan hobi menjadi salah satu alternatif yang mereka paai. Hobi dapat diorganisir untuk dikembangkan menjadi sebuah usaha, yang harapannya dapat menghasilkan dan meningkatkan taraf ekonomi. Kepada para pelajar, pilihlah perguruan tinggi yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuanmu. Untuk para mahasiswa, mari manfaatkan masa-masa mahasiswa untuk tumbuh bersama kampus, baik akademik maupun non akademik. Dan untuk para mantan mahasiswa, ayo berfikir di luar kotak, kreatif, mencoba memanfaatkan kemampuan kita untuk menciptakan lapangan kerja, minimal bagi diri kita.

MALIN KUNDANG

Cerita Rakyat Malin Kundang Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Sebentuk batu di pantai Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang. Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agardapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak. Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajaklaut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajaklaut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagangdengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya. Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya. Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya. Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya. Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat. Itulah cerita Malin Kundang yang durhaka pada Ibunya sendiri yang akhirnya mendapatkan kutukan menjadi batu. dengan kisah ini kita bisa bercermin untuk tidak melakukan hal yang bersipat dosa atau durhaka, karena memang sejelek apapun Dia Ibu kita, tak perlu malu untuk mengakuinya. Semoga cerita rakyat dengan kisah ini kita atau pembaca semua bisa mengambil hikmahnya. Read more at: http://operatorku.blogspot.com/2012/07/cerita-rakyat-indonesia.html Copyright by operatorku.blogspot.com Terima kasih sudah menyebarluaskan aritkel ini

Selasa, 03 Juli 2012

Budaya dukun Di Indonesia

Budaya dukun (paranormal) Di Indonesia

Budaya : dukun-dukun gunung bromo


LAKSANA AGUNG SAPUTRA
Sa i (60), seorang calon dukun, merapalkan mantra pulun sebagai ujian pengukuhan dukun pandhita pada Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten di kawasan laut pasir Tengger, Jawa Timur, Minggu (6/9) dini hari. Dukun pandhita adalah tokoh masyarakat yang menjadi kunci kehidupan spiritual dan tradisi masyarakat Tengger secara komunal.
SUKU TENGGER
Dukun-dukun Gunung Bromo

Laksana Agung Saputra

Purnama sempurna pada hari ke-14 bulan Kasada. Dalam temaram cahayanya yang menyapu lembut laut pasir Tengger, ritual inti Yadnya Kasada digelar pada suhu udara 2-5 derajat celsius.Prosesi Yadnya Kasada dimulai sejak 28 Agustus.Puncaknya adalah ritual di Pura Luhur Poten di laut pasir Tengger, Minggu (6/9) dini hari.Prosesi dilanjutkan dengan labuh sesaji ke dalam kawah Gunung Bromo, sebuah peringatan atas sebuah legenda yang diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tengger.Di pelataran utama Pura Luhur Poten berdiri sebuah pendapa berukuran 10 meter x 10 meter menghadap ke selatan, persis ke arah Padmasana. Pendapa itu memiliki bangunan sayap di kanan-kirinya, yang masing-masing bentuknya memanjang.Sayap timur merupakan tempat bagi para dukun, sesaji, dan warga dari desa-desa masyarakat Tengger di kawasan sebelah timur laut pasir, yakni wilayah Kabupaten Probolinggo dan Lumajang.Sementara sayap barat merupakan tempat bagi dukun, sesaji, dan warga dari desa-desa masyarakat Tengger di kawasan sebelah barat laut pasir, yakni wilayah Kabupaten Pasuruan dan Malang.Tak kurang 47 dukun mewakili desanya masing-masing hadir dalam Yadnya Kasada tahun ini.Mereka memakai pakaian putih atau hitam dipadu celana hitam dengan kombinasi kain batik.Selendang kuning menyilang di dada menjadi tanda bahwa mereka adalah dukun.Tak ketinggalan tentunya ikat bermotif batik diikat menutupi kepala.Para dukun itu tergabung dalam Perkumpulan Dukun Sekawasan Tengger atau sering disebut Paruman Dukun Tengger.Saat ini, Ketua Paruman Dukun Tengger adalah Mujono, dukun Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Mantra pulun
Sekitar pukul 03.00, ritual Yadnya Kasada dimulai.Prosesinya meliputi pembacaan sejarah Kasada, puja stuti dukun pandhita, mulunen, dan mekakat atau upacara penutup.Di antara prosesi itu, mulunen selalu menarik perhatian umat.Mulunen adalah wisuda samkara atau upacara ujian sekaligus pengukuhan dukun baru.Upacara ini hanya bisa digelar dalam prosesi Yadnya Kasada.Disebut mulunen karena calon dukun harus merapalkan mantra pulun.Mantra ini hanya dirapalkan saat wisuda samkara dan unan-unan (tradisi 5 tahunan).Seorang dukun dinyatakan lulus apabila mampu merapalkan mantra pulun dengan lancar. Kesempatan hanya diberikan maksimal tiga kali.”Kalau pertama kali merapalkan lancar, ya langsung dianggap lulus.Tetapi kalau masih kurang lancar, maka diberi kesempatan dua kali lagi.Kalau pada kesempatan ketiga tidak lancar juga, ya dianggap tidak lulus,” kata Ketua Paruman Dukun Tengger Mujono.Setiap desa Tengger memiliki satu dukun.Desa yang penduduknya padat, seperti Ngadisari, bisa dimungkinkan memiliki dua dukun.Pergantian dukun bisa dilakukan jika dukun lama meninggal atau mengajukan pengunduran diri karena sakit atau sudah terlalu tua.Pada Yadnya Kasada tahun ini, dua desa mengajukan calon dukun baru, yakni Desa Gemito, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, dan Desa Pakel, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang. Masing-masing adalah Sumal (40) dan Sa’i (60).Begitu upacara mulunen akan dimulai, keduanya diarak menuju pendapa utama. Saat merapalkan mantra pulun, calon dukun diapit tiga dukun, yakni Ketua Paruman, Wakil Ketua Paruman, dan dukun lain yang dituakan.Sumal yang mendapat giliran pertama langsung mengambil tempat menghadap Padmasana.Setelah menerima instruksi, ayah tiga anak itu langsung merapalkan mantra pulun.Mantra harus dirapalkan secara cepat dan lancar.Pada kesempatan pertama ia gagal. Mulutnya berhenti bergerak saat sampai pada seloka atau bait kedua. Hal sama terjadi pada kesempatan kedua. Akhirnya, Sumal berhasil menyelesaikan mantra pada kesempatan ketiga atau terakhir.”Kados pundi sedulur brang wetan? Kados pundi sedulur brang kulon?” tanya Mujono, meminta penilaian dari forum dukun.”Lulus,” kata dukun-dukun di sayap timur dan barat.Dukun dari kawasan timur disebut saudara seberang timur atau sedulur brang wetan.Sementara dukun dari kawasan barat disebut saudara seberang barat atau sedulur brang kulon.Berikutnya adalah Sa’i. Ayah empat anak dan kakek dua cucu itu dengan lancar menuntaskan mantra pulun pada kesempatan pertama sehingga sedulur brang wetan dan kulon pun langsung sepakat meluluskan dia.Mujono kemudian memberikan piagam kepada Sumal dan Sa’i sebagai tanda pengukuhan dukun sah. Dalam piagam dengan kop Paruman Dukun Sekawasan Tengger itu, masing-masing dinyatakan lulus dengan predikat baik dan berkewajiban Ngloka Pala Sraya atau melayani umat menjalankan ajaran agama Hindu.”Lega rasanya.Lega bisa dilantik menjadi dukun,” kata Sa’i seusai upacara.Rona kelegaan pun bersinar di wajah Sumal.”Untung saya berhasil pada kesempatan terakhir,” kata Sumal yang baru belajar mantra pulun dalam tiga hari terakhir.
Mistis
Menurut kisah para dukun, wisuda samkara selalu diliputi nuansa mistis.Contohnya sebagaimana dialami Marji’in (50), calon dukun dari Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, beberapa tahun silam.Marji’in adalah pembantu dukun selama bertahun-tahun.Soal merapal mantra, Marji’in bisa dikatakan sudah mumpuni. Namun, saat merapal mantra pulun pada mulunen, ia gagal dalam dua kesempatan pertama. Pada kesempatan terakhir, Marji’in tak mampu mengeluarkan satu kata pun. Kepalanya hanya bergeleng-geleng ke kanan-kiri.Pembantu dukun itu pun akhirnya dinyatakan tak lulus ujian. Sebaliknya, Sukaryono (48), calon dukun lainnya, lulus dengan lancar meski tidak mempunyai latar belakang sebagai pembantu dukun.”Aneh memang.Tapi itulah kenyataannya. Beberapa calon dukun tidak lulus ujian meski sebelumnya fasih merapalkan mantra pulun,” kata Wakil Ketua Paruman Dukun Sekawasan Tengger Sutomo.Dalam tradisi Tengger, terdapat 71 bab dan 165 lanjaran mantra serta 6 jenis mekakat atau sambutan. Setiap mantra rata-rata terdiri atas empat bait. Mantra pulun yang terdiri atas dua bait sebenarnya termasuk yang terpendek.Untuk menjadi dukun, menurut Sutomo, tentu saja syaratnya tidak sebatas mampu merapalkan mantra pulun, tetapi semua mantra.Calon dukun setidak-tidaknya harus hafal 50 persen mantra yang umum dipakai.Selebihnya bisa dihafalkan kemudian.Namun, sebelum mulunen, calon dukun harus terlebih dahulu mengetahui dan memahami sejarah dan tradisi masyarakat Tengger.Calon dukun juga diwajibkan menguasai kalender Tengger karena semua kegiatan tradisi dan keagamaan didasarkan pada perhitungan kalender tersebut.Seorang dukun juga harus menjaga kesucian hidup dan berkomitmen melayani umatnya.
Dukun gedhe
Ada dua macam dukun di Tengger, yakni dukun gedhe dan dukun cilik.Dukun gedhe atau tepatnya disebut dukun pandhita adalah pemimpin agama sekaligus tradisi yang hanya bisa dikukuhkan dalam Yadnya Kasada. Sementara dukun cilik adalah dukun sebagaimana istilah dukun yang dikenal di daerah lain. Biasanya, status dukun cilik didapat dari pengakuan warga karena seseorang memiliki kemampuan tertentu, misalnya kemampuan mengobati.Tugas dukun pandhita pertama-tama adalah menjaga kesucian diri sendiri.Kedua, menentukan hari baik untuk semua upacara.Ketiga, melaksanakan upacara.Dan, keempat, membimbing umat.Upacara-upacara yang diselenggarakan dukun pandhita tidak hanya upacara agama Hindu yang juga dirayakan umat di daerah lain, misalnya Nyepi, tetapi juga upacara tradisi khas Tengger sendiri. Dalam Hindu dikenal istilah Desa Kalapatra.Artinya, setiap umat Hindu diberi kebebasan menghayati agamanya sesuai dengan konteks budaya lokal.Ada pemeo di kalangan masyarakat Tengger, lebih baik tidak memiliki kepala desa daripada tidak memiliki dukun pandhita.Ini menunjukkan pentingnya dukun dalam kehidupan masyarakat Tengger.Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menyatakan, dukun pandhita adalah kunci kehidupan tradisi dan spiritual masyarakat Tengger.Sebab, dialah yang menentukan seluruh kalender kegiatan tradisi dan keagamaan, termasuk menyelenggarakannya.”Selain pemimpin spiritual, dukun pandhita juga menjadi panutan dan acuan dalam kehidupan sosial.Ia adalah tokoh masyarakat,” kata Bambang.
Manasuka
Dukun pandhita termasuk dalam struktur lembaga PHDI di kabupaten masing-masing.Namun, mereka tidak mendapat gaji.Mereka menerima imbalan uang dari upacara-upacara yang dipimpinnya, baik upacara yang bersifat massal, seperti Yadnya Kasada, maupun upacara yang bersifat pribadi, misalnya upacara meruwat anak.”Besarnya imbalan manasuka atau suka-suka sesuai kemampuan yang punya hajatan.Tapi rata-rata Rp 75.000 sampai Rp 100.000 per upacara,” kata Sutomo.Menjadi dukun pandhita memang bukan jalan yang menjanjikan kesejahteraan materi seperti anggota legislatif.Guna menopang hidup keluarga, semua dukun harus bekerja layaknya masyarakat awam Tengger, yakni mencangkul di ladang.Pada hari ke-14 bulan Kasada itu, Sumal dan Sa’i telah menjadi dukun pandhita.Dan, tugas mereka baru saja dimulai.


Kesimpulan    :     Budaya dukun di Indonesia masih terlihat jelas, karena Indonesia terdiri dari
berbagai    suku dan dari tiap suku tersuebut biasanya memiliki dukun yang
berguna dalam upacara adat maupun dalam soal mengobati. Namun tidak
sedikit pula yang berfungsi lain, seperti santet dan pelet.   

Dukun-dukun Gunung Bromo
KOMPAS, Sabtu, 12 September 2009

BUDAYA BURUK INDONESIA

BUDAYA BURUK INDONESIA

1.Orang Indonesia suka rapat dan membentuk panitia macam-macam. Setiap ada kegiatan selalu di rapatkan dulu, tentunya dengan konsumsinya sekalian. Setelah rapat perlu dibentuk panitia kemudian diskusi berulang kali,saling kritik, dan merasa idenya yang paling benar dan akhirnya pelaksanaan tertunda-tunda padahal tujuannya program tersebut sebetulnya baik.
2. Budaya Jam Karet
menurut beberapa orang asing yang pernah ke Indonesia. Ketika ditanya kebudayaan apa yang
menurut anda terkenal dari Indonesia dengan spontan mereka jawab :Jam Karet! Saya tertawa tapi sebetulnya malu dalam hati.Sudah sebegitu parahkah disiplin kita.
3. Kalau bisa dikerjakan besok kenapa tidak (?)
Kalau orang lain berprinsip kalau bisa dikerjakansekarang kenapa ditunda besok? Orang Indonesia mempunyai budaya menunda-nunda pekerjaan.
4. Umumnya tidak mau turun ke Lapangan
orang Indonesia yang hebat sekali dalam bicara dan memberikan instruksi tapi jarang yang mau
turun langsung ke lapangan.

BUDAYA  JEPANG YANG PATUT DITIRU INDONESIA
Budaya malu (shame culture) sejatinya merupakan sikap dan sifat bangsa Timur/Asia termasuk bangsa kita.Intinya merupakan wujud hati nurani yang benar, bukan hanya di permukaan saja atau cari-cari publisitas saja.Sampai kinipun, bagi masyarakat Jepang moral atau akhlak dalam konseprinri (bertata-krama), jiwanya datang dari China kuno. Ajaran Konfusianisme di Jepang sebagai falsafah hidup dijunjung tinggi sebagai panduan yang  menjiwai identitas dan tanggung jawab tidak hanya dalam keseharian keluarga, tapi juga dalam  keseharian pelayanan brokrasi dan kelincahan bisnis/mencari untung dengan pertanggungjawaban sosial.
Filsuf kuno Konfusius sudah sejak zaman dulu mengungkapkan secara halus berikut ini “... kesalahan mendasar kita adalah mempunyai kesalahan dan tidak sudi memperbaikinya (the real fault is to have faults and not to amend it).” Setiap kali orang Jepang membuat kesalahan fatal, karena malu menggugat diri/introspeksi diri dengan melakukan meditasi dan kemudian memperbaiki diri atau mengundurkan diri bahkan ada yang sampai ber-harakiri (bunuh diri), karena rasa malu. 
Setiap anggota masyarakat di Jepang harus berani dan fokus menatap cermin, setiap  pagi sebelum sarapan dan malam sebelum tidur selama 60 detik (satu menit), mengugat diri/introspeksi diri dan bertanya yang ada di cermin, masihkah menghayati etika & norma yang ada atau budaya malu sudah luntur dalam dirinya..?? 
Dari usia dini, selain diajarkan budaya malu, anak anak diajarkan budaya saling memperhatikan & melayani orang lain, budaya ini telah ditanamkan di sekolah dasar dan TK. Kalau di Indonesia kita mengenal kata piket, di Jepang pun ada, dengan tanggung jawab yang lebih banyak. Kelompok-kelompok piket yang bertugas bukan hanya membersihkan kelas saja, tapi juga membantu memasak dan menyiapkan makanan untuk teman-temannya, menyiram tanaman dan memberi makan binatang piaraan di sekolah.Di hari-hari tertentu jika ada kegiatan bersih-bersih massal, semua orang turun tak terkecuali, termasuk para pimpinan.Di jepang tidak perlu promosi dalam bentuk foto atau siaran TV atas keterlibatan para pimpinan dalam menunjukkkan kesungguhan dan kerja keras, karena di Jepang peduli pada lingkungan & kegiatan bersih bersih masal sudah merupakan hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah jika ada yang tidak berpartisipasi atau hanya sekedar tunjuk sana tunjuk sini. Selain itu Anak anak dididik & diberi tanggungjawab sejak dini untuk membawa tas, jaket atau perlengkapan sekolah lainnya sendiri, tanpa bantuan orang tua, saudara ataupun pembantu.

Budaya malu, mendahulukan dan melayani orang lain ini bersumber dari ajaran Zen Buddhism. Melayani menumbuhkan rasa rendah hati dan kepekaan diri.Budaya malu menumbuhkan rasa tanggungjawab, perbaikan diri dan penyesalan yang mendalam.Padahal  banyak masyarakat Jepang yang tidak beragama, tapi justru  mereka masih sangat teguh memegang tradisi ini dan bisa menghargai, menghormati serta bertenggang rasa pada sesama hingga kini. Betapa indahnya jika kita saling melayani sekaligus punya rasa malu dan betapa damainya jika sifat rendah hati dan saling peduli bisa menjadi keseharian kita tanpa memandang ras, suku bangsa maupun agama.

KESIMPULAN :
Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita sudah terlalu sering dinina- bobokan oleh istilah indonesia kaya,masyarakatnya suka gotong royong, ada pancasila,agamanya kuat, dan lain-lain.Dan itu hanyalah istilah, kenyataannya bisa kita lihat sendiri. Ternyata negarakita hancur-hancuran, bahkan susah untuk recovery lagi, mana sifat gotong royong yang membuat negara
seperti Korea, bisa bangkit kembali. Kita selalu senang dengan istilah tanpa action. Kita terlalu banyak diskusi,saling lontar ide, kritik, akhirnya waktu terbuang percuma tanpa action. Karena belum apa-apa sudah ramai duluan. Kapan kita akan sadar dan intropeksi akan kekurangan-kekurang an kita dan tidak selalu menjelek-jelekkan orang lain? Selama itu belum terjawab kita akan terus seperti ini, menjadi negara yang katanya sudah mencapai titik minimal untuk disebut  negara beradab dan tetap terbelakang disegala bidang. Mudah-mudahan pernyataan beliau menjadi peringatan bagi kita semua, terutama saya pribadi agar bisa lebih banyak belajar dan mampu merubah diri untuk menjadi yang lebih baik.Semoga kita bisa memperbaiki Citra ini dengan sikap 3 M (mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan mulai dari yang terkecil).

Selasa, 24 April 2012

BUDAYA BURUK INDONESIA


BUDAYA BURUK INDONESIA

Bukan maksutnya ingin menurunkan derajat indonesia, tapi untuk membuat INDONESIA sadar bahwa kita punya budaya yang buruk.

1.Orang Indonesia suka rapat dan membentuk panitia macam-macam. Setiap ada kegiatan selalu di rapatkan dulu, tentunya dengan konsumsinya sekalian. Setelah rapat perlu dibentuk panitia kemudian diskusi berulang kali,saling kritik, dan merasa idenya yang paling benar dan akhirnya pelaksanaan tertunda-tunda padahal tujuannya program tersebut sebetulnya baik.
2. Budaya Jam Karet
menurut beberapa orang asing yang pernah ke Indonesia. Ketika ditanya kebudayaan apa yang
menurut anda terkenal dari Indonesia dengan spontan mereka jawab : Jam Karet! Saya tertawa tapi sebetulnya malu dalam hati.Sudah sebegitu parahkah disiplin kita.
3. Kalau bisa dikerjakan besok kenapa tidak (?)
Kalau orang lain berprinsip kalau bisa dikerjakansekarang kenapa ditunda besok? Orang Indonesia mempunyai budaya menunda-nunda pekerjaan.
4. Umumnya tidak mau turun ke Lapangan
orang Indonesia yang hebat sekali dalam bicara dan memberikan instruksi tapi jarang yang mau
turun langsung ke lapangan.



BUDAYA  JEPANG YANG PATUT DITIRU INDONESIA

Budaya malu (shame culture) sejatinya merupakan sikap dan sifat bangsa Timur/Asia termasuk bangsa kita.Intinya merupakan wujud hati nurani yang benar, bukan hanya di permukaan saja atau cari-cari publisitas saja.Sampai kinipun, bagi masyarakat Jepang moral atau akhlak dalam konsep rinri (bertata-krama), jiwanya datang dari China kuno. Ajaran Konfusianisme di Jepang sebagai falsafah hidup dijunjung tinggi sebagai panduan yang  menjiwai identitas dan tanggung jawab tidak hanya dalam keseharian keluarga, tapi juga dalam  keseharian pelayanan brokrasi dan kelincahan bisnis/mencari untung dengan pertanggungjawaban sosial. 
Filsuf kuno Konfusius sudah sejak zaman dulu mengungkapkan secara halus berikut ini “... kesalahan mendasar kita adalah mempunyai kesalahan dan tidak sudi memperbaikinya (the real fault is to have faults and not to amend it).” Setiap kali orang Jepang membuat kesalahan fatal, karena malu menggugat diri/introspeksi diri dengan melakukan meditasi dan kemudian memperbaiki diri atau mengundurkan diri bahkan ada yang sampai ber-harakiri (bunuh diri), karena rasa malu.  
Setiap anggota masyarakat di Jepang harus berani dan fokus menatap cermin, setiap  pagi sebelum sarapan dan malam sebelum tidur selama 60 detik (satu menit), mengugat diri/introspeksi diri dan bertanya yang ada di cermin, masihkah menghayati etika & norma yang ada atau budaya malu sudah luntur dalam dirinya..??  
Dari usia dini, selain diajarkan budaya malu, anak anak diajarkan budaya saling memperhatikan & melayani orang lain, budaya ini telah ditanamkan di sekolah dasar dan TK. Kalau di Indonesia kita mengenal kata piket, di Jepang pun ada, dengan tanggung jawab yang lebih banyak. Kelompok-kelompok piket yang bertugas bukan hanya membersihkan kelas saja, tapi juga membantu memasak dan menyiapkan makanan untuk teman-temannya, menyiram tanaman dan memberi makan binatang piaraan di sekolah. Di hari-hari tertentu jika ada kegiatan bersih-bersih massal, semua orang turun tak terkecuali, termasuk para pimpinan. Di jepang tidak perlu promosi dalam bentuk foto atau siaran TV atas keterlibatan para pimpinan dalam menunjukkkan kesungguhan dan kerja keras, karena di Jepang peduli pada lingkungan & kegiatan bersih bersih masal sudah merupakan hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah jika ada yang tidak berpartisipasi atau hanya sekedar tunjuk sana tunjuk sini. Selain itu Anak anak dididik & diberi tanggungjawab sejak dini untuk membawa tas, jaket atau perlengkapan sekolah lainnya sendiri, tanpa bantuan orang tua, saudara ataupun pembantu. 

Budaya malu, mendahulukan dan melayani orang lain ini bersumber dari ajaran Zen Buddhism. Melayani menumbuhkan rasa rendah hati dan kepekaan diri. Budaya malu menumbuhkan rasa tanggungjawab, perbaikan diri dan penyesalan yang mendalam. Padahal  banyak masyarakat Jepang yang tidak beragama, tapi justru  mereka masih sangat teguh memegang tradisi ini dan bisa menghargai, menghormati serta bertenggang rasa pada sesama hingga kini. Betapa indahnya jika kita saling melayani sekaligus punya rasa malu dan betapa damainya jika sifat rendah hati dan saling peduli bisa menjadi keseharian kita tanpa memandang ras, suku bangsa maupun agama. 

KESIMPULAN :
Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita sudah terlalu sering dinina- bobokan oleh istilah indonesia kaya,masyarakatnya suka gotong royong, ada pancasila,agamanya kuat, dan lain-lain.Dan itu hanyalah istilah, kenyataannya bisa kita lihat sendiri. Ternyata negarakita hancur-hancuran, bahkan susah untuk recovery lagi, mana sifat gotong royong yang membuat negara
seperti Korea, bisa bangkit kembali. Kita selalu senang dengan istilah tanpa action. Kita terlalu banyak diskusi,saling lontar ide, kritik, akhirnya waktu terbuang percuma tanpa action. Karena belum apa-apa sudah ramai duluan. Kapan kita akan sadar dan intropeksi akan kekurangan-kekurang an kita dan tidak selalu menjelek-jelekkan orang lain? Selama itu belum terjawab kita akan terus seperti ini, menjadi negara yang katanya sudah mencapai titik minimal untuk disebut  negara beradab dan tetap terbelakang disegala bidang. Mudah-mudahan pernyataan beliau menjadi peringatan bagi kita semua, terutama saya pribadi agar bisa lebih banyak belajar dan mampu merubah diri untuk menjadi yang lebih baik.